pmb

Kebangkrutan Kedaulatan (Pemuda dan Kebangkrutan Kedaulatan Part 1)


an image

“…beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia…” (Soekarno)     Kata-kata di atas akan menjadi

Berkurban dalam Semangat Soempah Pemoeda


an image

Pekalongan, 27 Oktober 2012. Dalam pembelajaran sebagai manusia bermasyarakat madani-masyarakat yang menjadi impian semua orang, masyarakat yang

Idhul Adha dalam krisis multidimensi


an image

Menilik makna filosofis Idul Adha, kita dapati betapa ‘pengorbanan’ itu merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan. Kehidupan ini

Pemuda seperti apa kita? (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 5)


an image

Apakah kita tergolong pemuda yang aktif, suka berkerja keras, senang mencoba hal-hal baru serta senantiasa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar

Pemuda dalam Pandangan Islam (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 4)


an image

“Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu

Pemuda, Dulu dan Sekarang (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 3)


an image

Jika kita lihat, ada perbedaan menonjol antara pemuda dulu dan sekarang. Dahulu, dimana keadaan negara masih ”menegangkan”, lahirlah para


    Pemuda adalah tulang punggung (back bone) sebuah Negara. Jika ingin menghancurkan sebuah Negara, maka hancurkanlah pemudanya. Sulit mengatakan kalau praktik tersebut tidak terjadi di Indonesia. Komparasi sederhananya: lebih banyak mahasiswa (sebagai bagian dari pemuda) yang ikut diskusi atau nonton konser band Ungu? Lebih banyak mahasiswa yang berorganisasi atau yang nongkrong gak jelas di mal-mal dan café-cafe? Lebih banyak mana mahasiswa yang bisa berorasi atau yang bisa menari Gangnam Style?
    Belum lagi kasus kaum muda yang terjerat narkoba, free sex, dan tawuran makin menyuramkan masa depan bangsa ini.
    Hemat saya, kampus adalah basis gerakan, maka sudah menjadi kewajiban untuk menumbuhkan kritisisme mahasiswa terhadap hegemoni asing. Kita harus membuang jauh-jauh hedonisme di kalangan mahasiswa. Karena sejatinya hedonisme adalah kesenangan semu yang melenakan kaum muda untuk peduli kepada bangsa yang masih sekarat ini. Misalnya seperti ini, ketika kita nongkrong di mal, maka kita tidak akan melihat saudara kita yang kekurangan. Tentu yang ada di dalam mal adalah barang-barang yang bagus, sehingga kita akan lupa dengan rumah kumuh di pinggir rel kereta api.
    Begitulah kapitalisme menumpulkan kemanusiaan kita. Kapitalisme telah membius alam bawah sadar kita untuk menuhankan ego kita daripada peduli kepada orang lain.

* penulis adalah Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Tengah 2008-2010 dan Presiden BEM UMS 2006-2007

Hit (486)Komentar (0)

*
*
  (Masukkan kode dibawah ini)