pmb

Pemuda seperti apa kita? (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 5)


an image

Apakah kita tergolong pemuda yang aktif, suka berkerja keras, senang mencoba hal-hal baru serta senantiasa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar

Pemuda dalam Pandangan Islam (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 4)


an image

“Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu

Pemuda, Dulu dan Sekarang (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 3)


an image

Jika kita lihat, ada perbedaan menonjol antara pemuda dulu dan sekarang. Dahulu, dimana keadaan negara masih ”menegangkan”, lahirlah para

Peran Pemuda (Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi 2)


an image

”Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia,” inilah sebuah ungkapan yang pernah dilantunkan sang orator ulung yang pernah

Hakikat Pemuda


an image

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata pemuda? Apakah sekedar manusia muda dengan beragam gayanya yang serba up to date? Ataukah ada

Mawar Dari Mawar (Part 3)


an image

Senja di jumat yang siang tadi di basahi air hujan, menampakan keelokan sinarnya, siapa yang mampu menolak keindahanya kecuali orang-orang yang

Menilik makna filosofis Idul Adha, kita dapati betapa ‘pengorbanan’ itu merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan. Kehidupan ini adalah jihad atau perjuangan (al hayaatu jihaadun). Sedangkan setiap perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Maka, dapat kita katakan bahwa sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap insan. Sehingga, kesadaran untuk kembali kepada sifat berkorban ini merupakan suatu keharusan pula.
Kalau dikontekskan pada kekinian, kesadaran jiwa pengorbanan menjadi tuntutan yang begitu mendesak. Krisis ekonomi yang menimbulkan banyak masalah sosial yang krusial, seperti kemiskinan, pengangguran, anak jalanan, dan kriminalitas adalah realitas kehidupan yang membutuhkan pengorbanan untuk menghadapinya. Kita berharap Idul Adha kali ini menjadi semangat pengorbanan yang hakiki. Suatu semangat yang melandasi hidup dan kehidupan kita menuju ridha Ilahi, sekaligus menyinari hati nurani kita untuk menengok kebesaran khalik dan realitas kehidupan di sekitar kita.
Ada realitas yang telah terjadi, meskipun perlu dibuktikan dahulu. Jika Ibrahim menyembelih Ismail karena perintah (ujian) Allah, maka kita kaum Muslim menyembelih hewan kurban karena perintah Allah untuk saling berbagi terhadap sesama. Dari sini kemudian ada transformasi orientasi dari teosentris ke antroposentris. Berkurban bukan lagi untuk Allah, melainkan juga untuk saling berbagi dan kesejahteraan umat.  
Namun, yang sering terjadi sekarang adalah orang cenderung menganggap telah selesai ketika sudah melaksanakan ritual penyembelihan, tanpa mau melihat apa kebutuhan umat yang sebenarnya.
Karena itu, kurban menjadi hiper-realitas. Ia hanya terhenti pada simbol atau tanda pertama, tidak berusaha melampaui untuk mencapai tanda kedua.
Hiper-realitas adalah realitas artifisial yang tidak lagi berkaitan dengan realitas asasi, referensi, sifat dasar, atau prinsip alamiahnya. Ia adalah realitas yang telah terdistorsi dari realitas awal yang menjadi model atau rujukannya. Ia juga menciptakan `citra' yang dianggap sebagai realitas (Piliang: 2001).
Perintah udhiyyah adalah simbol pengorbanan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim, yang ini tidak lain adalah untuk mendekatkan diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dengan memberikan daging-daging kurban tersebut, berarti juga memperhatikan nasib warga yang tidak mampu di sekitarnya.
Dalam konteks ini, saudara kita yang untuk makan saja mereka harus mencari bersusah payah atau bagi mereka yang tertimpa musibah, atau dalam kondisi krisis multidimensi bangsa Indonesia, lebih membutuhkan kebutuhan yang lebih mendesak ketimbang daging-daging kurban, maka apa yang perlu diberikan sebagai ganti daging-daging kurban tersebut?
Dengan demikian, `pengorbanan' adalah kata kunci dalam perintah penyembelihan hewan kurban. Tentu saja pengorbanan tersebut bukan untuk Tuhan, sebab Tuhan tidak membutuhkan pengorbanan umatnya. Tuhan hanya menerima keikhlasan dan niat kita yang tulus. Pengorbanan hanya dibutuhkan bagi manusia dalam rangka usaha mewujudkan kesejahteraan mereka.
Bangsa Indonesia membutuhkan pengorbanan kita untuk membangun kembali kehidupan mereka. Maka itu, apa yang pantas kita berikan untuk saat ini adalah juga berarti memberikan `kurban' bagi mereka.

Hit (419)Komentar (0)

*
*
  (Masukkan kode dibawah ini)