pmb

Ramadhan Bersama Penuh warna


an image

Suatu acara yang penuh manfaat dan bernilai, untuk mendekatkan hubungan antar manusia dengan tuhan mupun hubungan antar sesama manusia telah diadakan

Balada Hidup Sang Punguk


an image

Dalam keterbatasan tubuhDalam keterbatasan rupaDalam keterbatasan pikir Terasa besarnya cintaTerasa besarnya hasratTerasa besarnya citaCoba tuk

AUTIS


an image

Autis? Pernahkah Anda pernah mendengar tentang Autis? Jika mendengar kata itu, kadang yang terlintas dalam benak kita adalah sebuah keabnormalitas

PPS dan Masta Stikes Muhammadiyah Pekajangan 2010


an image

Kedungwuni, Mahasiswa baru Stikes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan tampak berduyun-duyun berseragam putih hitam anggun

Wanita tua di Rumah Sakit


an image

Aku nggak tau siapa wanita tua itu. Aku bahkan tak tau siapa namanya. Tapi mataku tak lepas darinya. Ingin rasanya aku memeluknya. Ingin rasa ku

seperti mereka


an image

Jarang tidak makanAku sudah biasaHidup serba kekuranganMenjalaninya pun aku relaNamun, semoga saja tidak tinggal harapanSemoga Kau kabulkan

    Begitu banyak cerita tentang hidup ini...ada sedih...ada suka...semua pasti ada dua sisi yang berbeda...apakah agar dunia ini berjalan imbang? Tapi jika kebenaran, kebahagiaan, kebaikan lebih dominasi bukankah itu yang diharapkan? Kadang berpikir hidup itu memang aneh...tapi kita harus selalu gerakkan langkah tuk laluinya...walau kadang kaki terasa berat melangkah tapi banyak dorongan memaksa...
    Aku ingin tuangkan cerita hidupku yang mungkin menurut orang lain tak sama...ini bukan fiktif bagiku...tapi entah bagi orang lain.
    Aku hanya ingin bercerita tentang hidupku... Baca dan fahamilah jika kau inginkan, karena aku ingin pengalamanku berharga bagi yang lain tak hanya untukku seorang. Aku hidup sudah 63 tahun, terlahir dari zaman kemerdekaan yang baru dirasakan harumnya oleh rakyat Indonesia...ya...tahun 1947, begitu tua usia itu...
    Aku ibu dari 10 orang anak dan istri dari seorang purnawirawan TNI yang sejak 15 tahun yang lalu sudah habis masa kerjanya.  Disaat  anak-anaku mempunyai kebutuhan yang tak sedikit untuk sekolah dan untuk makan mereka. Gaji suamiku tidak besar karena jabatannya yang hanya seorang SERDA tidak mencukupi semua itu.
    Suamiku setiap 5 tahun sekali di masa kerjanya dulu selalu dikirim ke daerah Timor-timor untuk menyelesaikan kerusuhan yang terjadi waktu itu. Yah...memang sepertinya susah payah dipertahankan akhirnya lepas juga di tangan Portugal.
    Setiap dia bertugas di sana aku dirumah mengurus anak-anaku yang saat itu masih berjumlah 7 orang dan 2 diantaranya telah meninggal dunia. Entah apa sebab pastinya, di umur mereka yang terhitung masih bayi mereka sakit berhari-hari, aku dan suamiku berusaha menyembuhkannya. Akan tetapi kemampuan kami terbatas, dan akhirnya kedua anak kami kembali ke sisiNya.
    Selama hampir dua tahun aku ditinggal suamiku bertugas di daerah lain. Kangen rasanya... anak-anakpun selalu menanyakan ayahnya. Aku hanya bisa berdoa semoga dia selalu dalam lindunganNya. Selama itu tidak ada satupun kabar yang datang dari markas pasukan tempatnya bekerja.
    Aku sedih... ya jujur sangat sedih bahkan hampir depresi, walau gaji suamiku selalu diberikan padaku setiap bulan tapi aku merasa tak kuat untuk menaggung beban dalam mengurus anak seorang diri. Gaji suamiku sungguh tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup kami. Anaku tertua saat itu berumur  12 tahun dia harus mengurus adik-adiknya. Untung saja semua anak-anaku mandiri. Mungkin karena mereka terdidik dari kecil untuk hidup berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian. Aku bangga memiliki mereka.
    Akupun harus bekerja serabutan, apapun aku lakukan yang penting halal. Mulai jadi buruh jahit, batik, maupun pedagang di pasar. Kadang juga aku berdagang berkeliling dari pagi sampai sore. Ingin menangis hati ini, tapi bayangan wajah anaku memberiku semangat untuk terus tegak berjalan. Kelelahanpun tak berarti setelah sampai dirumah anak-anaku menyambutku dengan senyuman dan candaan khas mereka.
    Bertahun-tahun aku menjalani hidup seperti itu. Sampai akhirnya 3 tahun kemudian, tepatnya berselang 1 tahun setelah kepulangan suamiku dari Timor-timor terakhir kali itu, kami satu keluarga pindah dari asrama sempit yang selama ini kami tempati ke desa kelahiranku, desa yang nyaman dan juga dekat dengan orang tuaku. Aku bisa menitipkan anak-anaku pada orang tuaku saat aku dan suamiku bekerja. Dengan itu aku akan lebih tenang.
    Satu tahun kemudian, aku melahirkan anak kembarku yang ku beri nama Yadi dan Yanto. Mereka sangat lucu dan menambah ramai keluargaku. Namun, sejak usia 1 bulan mereka selalu sakit-sakitan. Jika yang satu sakit, satunya juga ikut sakit. Sampai aku harus berkali-kali membawa mereka ke Rumah Sakit.
    Yadi, sampai usia 20 tahun masih mempunyai sakit di paru-parunya, entah apa namanya. Paru-parunya yang sebelah kiri lebih kecil dari normalnya. Kasian sekali dia tiap beberapa bulan harus selalu control ke Rumah Sakit. Untung saja dia punya ASKES, ya...aku memang sengaja mendaftarkan ASKES atas namanya dan atas nama anaku yang terakhir yaitu Ana yang lahir setelah 7 tahun kelahiran si kembar.
    Entah kenapa, sejak kelahiran Ana, suamiku banyak berubah. Mungkin Karena dia sudah tidak begitu diaktifkan di pasukannya. Bagi para TNI yang pangkatnya rendahan memang inilah deritanya, di saat usia sudah menginjak 40 tahun mereka tak begitu diperlukan lagi, bahkan kadang mereka hanya melakukan aktivitas rutinnya untuk menata taman dan kebun di markas. Sungguh mengenaskan bukan? Beban itulah yang menjadikannya banyak berubah, dia kadang membuat masalah di markas dan kemarahannya sering dibawa sampai ke rumah hingga akhirnya aku dan anak-anaku yang jadi pelampiasan. Tak jarang dia jadi ringan tangan dan berkata kotor.  Agamanya juga sangat kurang, yang lebih mengenaskan dia belum bisa sholat, tapi aku tak putus asa membimbingnya. Namun, sejak itu dia malas dan tak peduli pada agama.
    Tak sampai di situ saja, tiap malam dia selalu keluar dan pulang sampai larut saat anak-anak sudah tidur lelap, namun aku tetap menunggunya karena aku takut jika dia marah gara-gara aku telat membukakan pintu. Ternyata kegiatannya tiap malam itu sungguh tak patut dicontoh. Dia memasang togel yang artinya sama saja dengan judi. Setiap pagi aku membersihkan jaket dan celananya selalu aku temukan kartu togel. Ingin rasanya aku robek-robek tapi suamiku pasti marah besar. Kami sering kali rebut tentang ini di depan anak-anak. Aku kasian pada mereka harus menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, terutama Ana. Dia masih kecil tapi dia sudah bisa merasakan perasaan ibunya saat itu. Setiap kami bertengkar dia menyaksikan dari sudut ruang lalu berlari ke kamarnya. Dia menangis semalaman dan menunggu dekapan kehangatanku datang menenangkan.
    Suamiku sangat sayang Ana, entah mengapa padanya dia begitu sayang, beda dengan anaknya yang lain. Hingga kadang kakak-kakaknya cemburu. Tidak jarang Ana jadi pelampiasan kejengkelan kakak-kakaknya. tapi dia hanya menangis, dan tangisannya bisa menggemparkan seluruh rumah. Mungkin karena itu dia jadi anak yang nakal, tapi untung saja dia cukup pintar.
    Seringkali Ana bisa menebak nomer togel yang akan keluar. Hal itu selalu dimanfaatkan suamiku. Jujur, anakku yang satu ini aku akui sifatnya paling mirip dengan ayahnya. Setiap keinginan harus segera terpenuhi.  Akan tetapi, walau dia nakal, dia anak yang baik. Setiap kali melihatku sedih ada saja kekonyolan yang dibuatnya. Aku menyesal sering memukulnya waktu kecil karena kenakalannya. Apakah wajar anak usia 5 tahun selalu membolos sekolah tiap hari?dan anehnya jika ditanya alasannya, ada saja jawaban yang diberikan. Dan lebih anehnya aku selalu percaya...hehehe
    Sesaat setelah suamiku pensiun, saat dia harus mondar-mandir mencari pekerjaan kesana kemari, dia benar-benar hampir stress. Karena gaji seorang pensiunan jauh berbeda daripada waktu dia masih aktif bertugas. Tunjangan-tunjangan dalam gaji banyak yang dikurangi.
    Dan malam itu, saat suamiku tampak aneh, aku memperhatikannya dengan hati-hati di belakangnya. Ternyata dia sedang mengintip Ana yang tengah sholat maghrib di kamarnya, sendiri dalam kesunyian begitu khusyuk rasanya sholat anak umur 5 tahun itu. Kulihat air mata suamiku menetes. Dia terharu menyaksikan anaknya paling kecil telah bisa sholat walau usianya masih anak-anak. Sejak itu dia rajin memintaku untuk mengajarinya sholat dan mengaji hingga akhirnya dia bisa melakukannya sendiri walau surat yang dibaca hanya Al Fatihah dan Al Ikhlas saja...hehehe...tapi biarlah.
    Hidupku dan keluargaku dari tahun ke tahun Alhamdulillah selalu ada peningkatan. Apalagi setelah suamiku mendapat pekerjaan sebagai buruh untuk menjaga sarang wallet milik pengusaha cina. Ya...sampai sekarang ini...gajinya juga lumayan hingga anak-anaku bisa menyelesaikan sekolahnya walau hanya sampai SMA. Namun, jujur aku ingin sekali menyekolahkan anak-anaku hingga kuliah tapi apa daya kemampuanku hanya sebatas itu.
    Walau mereka hanya lulusan SMA, Alhamdulillah mereka semua sudah bekerja, dan semoga pekerjaan itu membawa berkah bagi mereka dan keluarganya kelak. Yang tak pernah lupa aku ajarkan pada anak-anaku adalah sikap kemandirian dan pantang menyerah dalam hidup. Karena suatu saat kebahagiaan itu akan datang dengan usaha dan kerja keras. Namun, jangan pernah itu semua membuatmu mabuk akan dunia belaka. Karena semua itu tak kan kekal. Selalu berlindung pada Allah dan dekat padanya. Itulah kunci utama hidup. 
    Dan nanti saat aku pergi dari mereka menuju pangkuan Tuhanku, aku ingin mereka tahu betapa sayangnya aku pada keluargaku....sampai kapanpun. Begitu pula yang aku inginkan agar anak-anaku selalu saling menyayangi dan tak kan membuatku menangis disana...Amin Ya Rabb...
(Ratna)

Hit (1718)Komentar (1)

*
*
  (Masukkan kode dibawah ini)
 

Pujangga Terabaikan : sedikit komentar
kmbangkn lg ide cerita agar lbh menrik.rnbrikn dialog agar cerita tdk trkesn sprti feature bkn cerpen